loyalitas dalam kerja? Ada Gitu?

28 09 2007

“Saya sudah melaksanakan perintah boss. Trus juga lembur, juga memecahkan beberapa permasalahan visual. Tetapi masak gajinya tetap? Tidak ada uang lembur boss?” jawabannya :
“Lho, itu kan sudah tugasmu. Kamu memang digaji meliputi hal2 itu. Siapa yang suruh kamu memecahkan masalah visual? Kerjamu kan cuma clean-up visual.”
Akhirnya sang pegawai cabut. Dan perusahaan visual top tersebut gulung tikar 1 tahun berikutnya (sekarang dah ngga ada jejaknya karena talenta2nya pada rontok satu2x).
“Gwa kesel rie, masak udah berusaha bekerja keras, loyal, dan memberi lebih, ee malah disalahin. Mendingan ngabur saja. Toh banyak yang mau trima kemampuanku.” Itu adalah ilustrasi tentang loyalitas tenaga kerja profesional advance. Dan beliau saat ini sudah bekerja lagi di tempat lain. – catatan 1999 akhir

tag_loyal.gif
Ilustrasi tersebut setali tiga uang dengan kisah penutupan salah satu perusahaan besar di negeri antah. Alkisah… dipati manajemen perusahaan ingin memotong 1/2 karyawannya yang berjumlah 9000 orang menjadi 4000. tetapi mereka akan dinaikkan keahliannya dari buruh menjadi operator. Sang dipati merasa cukup loyal dengan negeri antah tersebut. Walaupun upeti dan manggalakrasi-nya (bukan birokrasi lho!) agak awut2an.
Maka majulah dia menghadap tumenggung bisnis yang membuat kebijakan tentang tenaga kerja di negeri itu. Guna mengajukan usul tersebut. “Ngga bisa!” kata sang tumenggung putri. Wong sekarang sedang krisja (krisis kerja) kok malah mau nambah pengangguran dengan memecat ½ jumlah karyawan.
Akhirnya dengan bete dipati itu mengontak negeri manca untuk memindahkan pabriknya. Dan… memecat 9000 atau seluruh pegawainya dengan membuang loyalitas atas negeri antah tersebut. Padahal sebenarnya sang dipati hanyalah seorang penjaga perusahaan yang diangkat dari ranah putih, negeri asalnya.

Ada perbedaan mendasar antara loyalis dengan standaris. Seseorang yang loyal akan mengorbankan banyak hal dahulu untuk membuktikan kemampuannya. Bukannya person yang adem ayem trus tiba2x minta banyak fasilitas, tanpa sekalipun mau berkorban atau berdedikasi bagi sistem usaha yang menaunginya.
Saya mencatat sejumlah sistem usaha sangat tergantung pada hal ini. Loyalitas adalah sebuah fasilitas mewah yang disediakan oleh seseorang pada sistem kerjanya atau bidangnya.

Dari hasil pengamatan, loyalitas akan muncul bila needs yang dibutuhkan oleh person telah dipenuhi oleh sistem yang bersangkutan. Nah dalam prakteknya, banyak metode bisnis yang sangat tergantung pada loyalitas tetapi tidak memiliki effort untuk membangunnya, maka dibangunlah sebuah sistem swa-loyalitas.
Dalam sejumlah waktu yg saya alokasikan untuk mempelajari swa-loyalitas, multi-level marketing adalah salah satu yang paling mapan. Loyalitas kerja tidak perlu dibangun oleh produsen tetapi cukup oleh networknya saja. Selain itu, anggota mlm juga membangun dan membesarkan metode swa-loyalitas tersebut secara mandiri tanpa campur tangan perusahaan induk. Tentu saja dengan salari berdasarkan jumlah pengikut.

Studi atas sistem kerja umum,
Dalam sistem kerja, mungkin sebaliknya. Semakin tinggi kemampuan kerja serta lapangan yang bisa ditangani, maka semakin kecil loyalitas yang dimiliki oleh person tersebut. Ini bukanlah suatu simton, tetapi merupakan efek langsung dari profesionalisme dan aplikasi dari teori piramida marslow tentang strata.
Umumnya perusahaan yang saya temui, belum dapat memilih dan memilah antara tenaga kerja loyalis dan yg cari aman. Dalam titik tertentu, loyalitas kerja tergantung dari finansial. Bagi sistem usaha umum, profit merupakan junjungan tertinggi dan patokan keberhasilan. Maka dari itu, tenaga yang loyal akan mencoba mendapatkan feedback dari perusahaan dari sudut finansial. Secara psikologis, bukan masalah uangnya tetapi penghargaan terhadap effort kerjanya, kemampuan, dan (terpenting) atas loyalitas yang dimiliki.
Dari pengalaman langsung, loyalitas sering dirusak oleh tatanan manajemen tingkat menengah (sekitar 80%). Efek psikologis dari kekuasaan yang dimiliki atas jabatan ditambah kurangnya wawasan, mengakibatkan kurangnya empati yang dimiliki oleh para mid-leader ini. Hal tersebut akan membangun atmosfer tekanan dan men-decreasing loyalitas kerja sampai taraf menghawatirkan di tingkat pelaksana. Akibatnya perusahaan tampak seperti sebuah wadah yang tidak menghargai karyawannya, padahal seringkali justru sebaliknya.
catatan : Saya belum pernah mencoba untuk mengimplementasikan teori dan solusi yang saya miliki atas masalah ini pada sebuah perusahaan. Atau mencoba berkonsultasi dengan tingkatan policy maker pada sebuah perusahaan untuk menjalankan performa berbasis loyalitas. Walaupun secara asumsi policy yang dihasilkan akan mampu meningkatkan performa usaha. J

Studi atas praktisi, profesional, dan freelancer,
Sedikit berbeda dari loyalitas di sistem kerja umum. Loyalitas di kalangan profesional menuntut satu elemen lagi yaitu penghargaan atas hasil kerja. Dari pengalaman dan pengamatan lapangan, rekan-rekan juga akan membuang loyalitasnya atas klien atau perusahaan di tong sampah begitu hasil kerjanya tidak dihargai. Tidak selalu karena faktor finansial, tetapi seringkali karena faktor pengakuan terhadap jerih payahnya.
Para profesional yang telah advance rata-rata memiliki loyalitas besar, tetapi mereka seringkali disamakan dengan pegawai yang (maaf) hanya stand-by saja, oleh mid-leader.
Bila hal ini terjadi, sistem usaha mengalami kerugian 2x. Pertama karena telah membayar mid-leader cukup lumayan, keduanya tenaga kerja / sdm yang potensial dan loyal, ngacir angkat kopor dari sistem yang bersangkutan. Sedangkan sistem usaha yang kehilangan aset sdm jagoan, sama saja dengan membuang keuntungannya di dasar samudera. Ironis.
Patokan untuk menilai profesional yang advance dari sdm yang umum adalah; pada minimnya supervisi tetapi tetap optimalnya hasil kinerja serta mereka memiliki inisiatif. Tetapi sifat seperti ini seringkali diabaikan entah dengan sengaja maupun tidak. Sehingga saat saya pernah ngobrol dengan seorang mantan konsultan performance management (beliau sudah bosan jadi konsultan) masalah besar dari performance kerja selalu saja berada di titik sdm.

Saya jadi berpikir, bahwa untuk membangun sebuah sistem kerja yang powerful cukup dengan 5-10 orang sdm. Asal memiliki kemampuan profesional advance dan loyal saja. Dan untungnya, orang2x hebat ini tidak seluruhnya mahal. Banyak yg dapat diidentifikasikan sejak bibit. Hehe… hanya butuh satu rekan dari bidang studi psikologi yang memiliki empati serta bakat advance juga (dan kalo bisa cantik juga), untuk menggali hal ini.

About these ads

Aksi

Information

3 tanggapan

7 05 2008
Mendol

Wah makasih mas tulisannya, kadang saya bingung kapan saya menempatkan profesionalisme dalam bekerja dan loyalitas. Kadang saya merasa kurang dihargai dan diperas keringatnya hehe kayak Ayam Petelor.

Tapi ketika menuntut sesuatu, ah jujur aja gaji. Yah paling gak ada sedikit perbaikan rejeki saya, karena kebutuhan meningkat bukan karena pengen hidup mewah. Dan ada banyak peluang diluar sana yang mau memakai kemampuan saya dengan imbalan yang lebih dari saat ini.

Apakah salah saya untuk mengambil peluang itu, dan keluar dari kantor?. Tapi seakan akan perusahaan tidak mau melepas saya, dan kayak dipersulit.

Tapi ketika saya membaca tulisan mas Arion, saya merasa berani untuk melangkah. Saya cuma berpikir saya punya utang apa untuk perusahaan, untuk berat meninggalkan perusahaan ini. :) mohon pencerahan mas bila saya salah.

10 05 2008
4arion

Salam Hormat, mas! Rekan saya juga demikian. Saya tidak menganjurkan siapapun untuk keluar dari pekerjaannya. Hanya saja janganlah sebuah potensi diri yang tinggi dari diri kita tidak dihargai hanya karena alasan cari kerja susah. Insya Alloh ngga kok selama kita mau endeavor. Semoga lebih sukses mas.
Mohon maaf baru sekarang komentar digranted. Saya sedang bertugas di lapangan 4 bulan full, sehingga jarang ngeblog. Hixs! dah kangeen. ini saja pinjem sebentar telkomnet instannya dari pstn teman. betewe, saya punya banyak hal lagi yang bisa dituliskan disini. termasuk juga beberapa trik mengelola kemampuan kerja kita agar optimal. Mohon ditunggu yach?! (^,^) …Harus kembali ke bunker lagi dihutan nich! Hixs!

3 09 2008
ari.setyo

loyalitas dalam kerja? Ada Gitu?
ya jelas gak ada atuh bos… haha.. sedikit ekstrim.. tapi gw sih berprinsip.. love your job not your office.. jadi selama kita bisa berkarya dan ada yang sanggup membayar lebih mahal, ya cabut aja… ngga pake yang namanya hutang budi sama perusahaan sebelumnya.. wong kita dibayar karena bekerja kan? klo dibayar ngga kerja, baru hutang budi.. :D
jadi klo ada kesempatan untuk mengaktualisasi diri lebih jauh lagi, ya sudah, cabs aja…
peace..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: