Rumus keberhasilan presentasi

27 01 2010

Presentasi adalah sebuah pemaparan atau istilahnya tesis. Sedangkan umpan balik dari audiens dapat disebut sebagai anti-tesis, hasilnya? Tentu saja sebuah sitesis. Ini bukan merupakan sebuah bentuk pertandingan untuk mencari pemenang atau pengalah. Bukan juga merupakan pola untuk mencari salah dan benar. Presentasi sebaiknya diletakkan sebagai sebuah pemaparan, eksposisi, atau penjabaran yang metodis. Lagi-lagi bila ditanya mengapa demikian? Hal itu merupakan rumusan penting yang menjadi tolok ukur keberhasilan presentasi. Perumpamaanya, bila seseorang bertanya “tahukah tentang…?” Maka jawabannya hanya YA tahu dan TIDAK tahu. Tetapi bila seseorang bertanya “di kondisi…(tertentu), apa yang anda lakukan?” maka jawabannya pasti beragam. Begitu pula presentasi.

Akan dibawa kemana presentasi itu dan hasil seperti apa yang harus diraih? Merupakan dua pertanyaan yang sering terabaikan saat menyusun sebuah presentasi yang oke dan spektakuler. Sering saat menyusun presentasi, sebagian besar orang terlalu terpaku pada proses pembuatannya dan lupa me-review tujuannya. Ini adalah tindakan bunuh diri. Sebuah presentasi ‘wah’ hanya akan menjadi pemandangan yang memanjakan mata atau eye candy. Tetapi setelah itu apa yang kita harapkan dari audiens tidak dapat diraih. Hixs!

Studi kasus 5

Jakarta merupakan medan tempur baru. Ada sebuah senjata yang sangat penting dalam dunia presentasi disini. Dan kami tidak tahu hal itu sebelumnya. Beragam metode presentasi mapan yang telah berhasil di sejumlah kondisi dan daerah, ternyata rontok di Jakarta. Psst… rahasia yach?! Senjata itu adalah statistik.

Setelah menjalankan sebuah presentasi selama lebih kurang 10 menit dengan memaparkan sebuah produk yang secara nyata memang telah memiliki kualitas. Tetapi audiens tampak sedikit bosan dan sepertinya tidak begitu tertarik dengan presentasi kami. Suatu kondisi yang sangat tidak positif dalam asumsi tim. Tim leader akhir memberi kode untuk mengakhiri presentasi dalam menit ke 15 dan memasuki sesi tanya jawab.

Benar saja. Muara pertanyaan yang meluncur dari audiens adalah perihal statistik ini. Dimulai dengan komparasi atau perbandingan produk. Apakah sudah ada produk sejenis? Bagaimana detailnya, bagaimana cost produk dibuat, dan bagaimana pula produk itu diterima oleh pengguna? Semua jawaban lancar dan saat sampai pada pertanyaan terakhir, kami menyampaikan bahwa sejumlah pengguna atau tester menyatakan puas menggunakan produk ini.

Here they come!!! Badai pertanyaan atas ujicoba kami pada tester produk menuai bencana. Tim tidak menyiapkan statistiknya. Tidak ada statistik secara kuantitatif dan kualitatif yang menyertai presentasi ini. Sebuah celah yang benar-benar fatal. Hanya dari hal itu, maka sesi tanya jawab itu menjadi the killing field alias ajang pembantaian. Semua dikaitkan. Statistik perbandingan produk, statistik konstruksi produk, de el el.

Solusi Kasus 5

Saat sebuah presentasi dibawa kearah pertandingan maka keberhasilan presentasi akan diukur dari kondisi menang atau kalah. Memang dengan pengalaman, trik untuk menghindarkan diri dari bencana bisa muncul. Tetapi perlu berton-ton keberuntungan agar itu dapat diraih. Jadi… sebaiknya siapkan payung sebelum hujan. Cobalah dijabarkan apa yang dibutuhkan dalam merumuskan keberhasilan presentasi? Setiap orang mungkin akan memiliki dasar yang berbeda. Tetapi secara bijaksana sebaiknya titik itu tidak dijadikan masalah pokok. Intinya justru membuat rumus presentasi yang cocok bagi karakter masing-masing. Berikut ini contoh rumus yang telah saya gunakan dalam beragam presentasi, sehingga mampu meloloskan kekalahan dalam kasus kelima.

Tesis, Anti-tesis dan Sintesis

Contoh sederhana dari sebuah tesis misal saat menyatakan ke orang lain bahwa 1+1 = 2. Maksud dari hal ini adalah bahwa hasil penelitian, pengembangan, dan evaluasi yang telah dilakukan, maka ditemukan tesis di atas. Hanya saja saat presentasi ada umpan balik (feedback) dari audiens, misal “apakah benar 2 itu selalu dari 1+1?” Jadilah sebuah sintesis yang menyatakan bahwa 1+1 pasti = 2, tetapi 2 belum tentu merupakan hasil 1+1. Ini adalah salah satu cara untuk mengkondisikan sebuah ajang presentasi sebagai wahana diskusi. Sehingga keberhasilan ditentukan oleh sintesis tersebut. Dengan demikian, presentasi tidak menjadi ajang perang tanding antara audiens dengan presentator.

Mental, karakter, dan aura

Aura positif dalam presentasi dihasilkan oleh upaya siapapun dalam membangun produk yang akan dipresentasikan. Kepercayaan diri atau konfidensi selalu berangkat dari dilakukannya penelitian, survey, pengerjaan, ujicoba, dan evaluasi. Bentuk akhirnya akan menghasilkan sebuah perasaan teguh yang menjadi dasar untuk mempresentasikan apa yang dimiliki.

Setiap orang selalu memiliki apa yang disebut sebagai defensive point. Yaitu titik dimana seseorang melakukan resistansi atau penolakan atas suatu interaksi. Hal ini yang menjadi dasar utama dilakukan presentasi. Peribahasa “Kenal saja belum tentu sayang, apalagi kalo tak kenal maka tak akan sayang” merupakan ilustrasi yang cukup tepat.

Menjadi diri sendiri

Perlu diingat kembali bahwa audiens biasanya orang-orang yang memiliki status lebih tinggi dari kita. Baik itu dilihat dari sudut pengalaman, kedewasaan, pengetahuan, dan mungkin saja finansial. Pertanyaannya adalah dapatkah kita berbohong? Saya tidak tahu jawabannya. Tetapi bohong dalam presentasi bisa menjadi hal yang sangat fatal. Bisakah kita seolah-olah tahu? Dan bisakah kita pura-pura tidak tahu? Jawabannya bisa! Tetapi biasanya audiens tahu serta bisa menyadari dan menangkap hal itu. Berkompromi dengan kondisi seperti ini juga bukan merupakan sebuah langkah yang bijaksana. Bingung bukan?!

Jadilah diri sendiri dengan kemampuan yang sesuai dengan karakter kita. Presentasi adalah ajang untuk menampilkan karakter, sehingga seluruh hasil presentasi adalah positif bagi diri kita. Konsep ini sama dengan metode publikasi. Tidak ada publikasi yang negatif. Semua publikasi adalah positif walaupun menggunakan elemen yang negatif. Sederhananya, informasi tentang goyang ngebor adalah negatif, tetapi mbak Inul tetap saja menuai hasil positif. Demikian juga presentasi.

Kadangkala ketidak-tahuan kita justru dapat menjadi juru selamat.

Lho, bagaimana bisa?

Dalam salah satu presentasi, saya menyampaikan tentang pola sebab-akibat yang menghasilkan sebuah pemecahan permasalahan. Setelah menjelaskan sejumlah data, ternyata ada data yang kurang. Akhirnya berdasarkan pada kondisi dan bobot permasalahan, kami mengaku bahwa data yang ada kurang. Sehingga bila diminta untuk menarik kesimpulan, hasilnya hanya sebuah asumsi. Saat audiens presentasi menanyakan kenapa data sampai kurang? Jawabannya adalah keterbatasan metode dan dana. Karena bila data itu telah didapatkan, maka sebenarnya permasalahan telah dipecahkan. Jadi, proses mengkoleksi data tersebut justru menjadi pekerjaan yang harus dilakukan. Dan audiens setuju untuk menyewa kami guna menjalankan proses koleksi data tersebut. Jadi pekerjaan gol.

Inti dari pemaparan ini adalah bahwa manusia itu unik. Pengalaman, kondisi, dan sejarah selalu mempengaruhi tindakan manusia. Ditambah juga dengan karakter, pola pikir, serta pendidikan. Jadi? Apakah presentasi yang akan kita tampilkan untuk audiens bisa distandarkan? Bisa. Contohnya metode presentasi penjualan sejumlah produk barang dan jasa. Tetapi, jangan dilupakan, semua metode itu hanya untuk mendukung karakter kita. Yang terpenting dalam menyikapi presentasi adalah tetap menjadi diri sendiri.


Aksi

Information

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: