Metode Edukasi

28 09 2007

“wah kemarin hampir remuk!” kita sempat bersaing dengan usaha lainnya lho. Rame.!! Untungnya aku ingat salah satu perkataan kamu 7 tahun lalu. Inget ngga? Yang mengilustrasikan tentang sebuah persaingan, termasuk solusi untuk memenangkan persaingan itu. Mirip! Dan aku menerapkannya. Syukurlah berhasil. Tengkyu bro!!” (saat itu tahun 2002 kalo ngga salah).
Pernyataan ini disampaikan oleh salah satu adik angkat. Salah satu pernyataan yang membahagiakan diri daku yang mampu merasuk sampai ke tulang dan sungsum rasanya. Ternyata omongan kami sambil makan mie ayam dan males2an di rumah kidul 7 tahun y.l. ada hasilnya. Dan dapat membantu melanggengkan usaha adik angkat saya sampai saat ini.
victory.jpg
Edukasi itu…, ternyata ada hasilnya. kata saya dalam hati tersenyum bahagia.

Itulah yang membuat saya sangat bersemangat untuk berpatisipasi dalam dunia edukasi. Saya tidak menyatakan edukasi sebagai sekolah, atau kuliah, atau edukasi formal lainnya. Semua proses belajar untuk meningkatkan kualitas diri saya sebut edukasi.

Saya telah mengikuti edukasi sebagai trainee, saya pernah menjalankan edukasi, sebagai mentor dan trainer. Dan saat ini saya sedang mengevaluasi semua experience saya untuk membuat metode edukasi ala gado-gado yang sebisa mungkin menghasilkan keberhasilan baik ditinjau dari sudut karakter maupun finansial. Tetapi metode ini memiliki beberapa beban. Yaitu;

Aplikasi praktek,
Benar kata dosen (dan beberapa mentor), belajar itu mahal.
Apa yang membuat mahal? Bukan ngomongnya, bukan arahannya, bukan gedungnya,… tetapi prakteknya. Praktek itu saya lukiskan seperti pembayaran utang, yang dihutang (mahasiswa) senang, yang berhutang (kampus) meriang!
Dalam metode edukasi yang saya terapkan, mempersiapkan dan menjalankan praktek kerja secara langsung merupakan tindakan setengah bunuh diri (katakanlah seperti membenamkan kepala sendiri kedalam empang sampai megap-megap).
Praktek tidak boleh setengah2.!! Itu adalah ketentuan yang sul;it ditawar. Saat saya mengajari inner-circle kami untuk mempraktekkan metode bernegosiasi dan melakukan approaching, saya harus kehilangan 1 potensi klien dan 1 klien langganan yang bernilai. Hasilnya ???? Gagals totals! Hixs!
Tetapi untunglah, mereka adalah orang2 yang telah lulus uji loyalitas, sehingga saat ini beliau2 ini (sudah) mulai mampu gathering profit secara mandiri.

Dalam hemat pribadi,
Aplikasi praktek adalah sebuah fasilitas mewah. Sehingga tidak sembarang person mampu (bukan mau, kalo mau semua juga mau) untuk diberi fasilitas dan melaksanakannya dengan hasil optimal. Maka dari itu, diperlukan sejumlah syarat dan prosedur yang harus dipenuhi dahulu oleh edukie (orang yang diedukasi). Beberapa prosedur yang harus dilewati tersebut bukanlah prosedur rumit, tetapi prosedur standar yang sebenarnya bisa dilewati oleh siapapun yang mau.
Bila prosedur dan syarat tersebut bisa dilewati, maka (secara statistik kasar) kans keberhasilan seseorang dapat dikatakan naik sampai 25%. Tinggi kan?

Dasar sdm,
Saya sangat konsen dan suka bila melihat potensi tertentu yang dimiliki oleh seseorang. Hampir setiap orang yang saya temui memiliki potensi besar untuk berhasil 90%+ lah. Sayangnya, hasil analisis dan pengamatan saya lebih lanjut seringkali menghasilkan raport sebaliknya. Entah apapun itu, tetapi ternyata setiap sdm memiliki apa yang disebut sebagai “daya tampung”. Semacam guci yang dapat menampung guyuran ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dikatakan tidak adil, tetapi dapat pula dianggap sebagai takdir.
Setiap individu memiliki kemampuan tampung knowledge yang berbeda-beda. Ada yang sangat besar ada yang sangat kecil, yang istilahnya diisi sedikit ilmu guci sudah luber. Tetapi pada umumnya standar. Dan anehnya statistika ini memiliki keterkaitan erat dengan ruang hidup atau lingkungan. “Tidak ada yang bisa disalahkan, Ini survival. Orang yang menjadi hebat pasti melakukan sesuatu yang hebat. Tidak dapat dipungkiri. Sesuatu yang hebat adalah hal yang dapat dilakukan siapapun tetapi tidak ada atau sedikit yang mau melakukannya.” Ini terngiang dalam telinga saya dari salah satu teman sebaya.
“Berapa orang yang mau mendengarkan omongan orang tua dengan seksama? Berapa orang yang menghormati guru dengan sepenuh hati? Berapa orang yang meninggikan derajat pahlawan?” dan pernyataan lanjutan beliau (seorang sesepuh) tidak saya kutip. Biasaa… kalo ditulis takutnya akan ditanggapi ah idealis, ah kunoo.
Tetapi memang saya lihat dalam pola kultur, metode edukasi dari petuah sudah banyak berkurang. Bila dulu saat masih kecil, pas ada perayaan entah nikahan, entah sunatan, atau perayaan lain di kampung, bila beberapa tetua kumpul, masih ada anak2 muda dan belia yang berada di sekelilingnya. Mereka ikut mendengarkan dengan seksama obrolan para sesepuh itu. Topiknya bisa beragam, dari perang kemerdekaan, masa revolusi pergolakan, atau hanya sekedar bagaimana cara mancing yang baik dan benar, atau tebak2an, atau gimana cara mbuat layangan yang keren.
Tetapi saat ini, orang2 tua dan anak2 muda yang duduk barengan sangat jarang. Petuah bukan lagi sesuatu yang menarik. Mungkin karena saat itu satu2nya hiburan hanya si unyil, ama selekta pop kali yaa.?! Tetapi saat ini ada internet, dvd, konsol game, komputer, mp3 player, hape, dan beragam teknologi tepat guna lainnya. Sehingga sesuatu yang cenderung membosankan akan ditinggalkan. Yah katakanlah pola modern.
Saat ini saya mencermati langsung metodologi pendidikan dengan berlaku sebagai asisten dosen di perguruan tinggi. Setelah hampir dua semester mengajar, ternyata memang terdapat beberapa metode edukasi yang hilang. Tetapi akhirnya saya tarik kesimpulan, itu bukan salah siapa2. Kita ditindas lebih dari 300 tahun, membuat kita kehilangan jati diri sebagai pemahat borobudur, penguasa asia tenggara, pengarung samudera, dan banyak lagi identitas kita yang hilang ditelan oleh rasa rendah diri dan tidak tahan banting.

Lalu… bila ditanya bagaimana solusinya? Saya hanya bisa menjawab tidak tahu. Karena dari bekas sdm yang terjajah, sdm yang tidak lagi suka membaca dan menulis, serta dari sdm yang melupakan sebagian besar akar sejarahnya, tentu saja dibutuhkan metode yang harus dilaksanakan oleh diri sendiri agar bisa sukses.

Saya akhirnya sadar, bahwa kemampuan survival selalu akan menjadi bagian dari kita. Lihatlah, banyak juga yang menempa diri menjadi jagoan2 di bidangnya. Sangat briliyan dan memiliki fighting spirit yang mumpuni. Pada akhirnya keberhasilan dan kegagalan bukan lagi berasal dari metode edukasi, tetapi dari diri sendiri yang memiliki cara untuk melakukan pembelajaran dan penempaan pikiran serta perasaan. :-p


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: