Motivasi

28 09 2007

Be Happy

Pamrih adalah motivasi terbesar. Tanpa pamrih adalah nonsens!
Paling tidak begitu yang dikatakan seorang cendikia. Lha kalo kita beribadah saja kita menuntut pamrih yaitu sorga kok. Masak kalo kita membantu atau bekerja pada orang lain tidak memiliki pamrih?

Dalam detailnya, masalah motivasi adalah masalah paling pribadi, dan yang paling ditutup2x-pi. Tetapi motivasi adalah bentuk paling sederhana yang memungkinkan adanya upaya dari seseorang untuk maju.
Ketika ditanya apa yang memotivasi kita sehingga mau menjalankan suatu hal? Maka jawabannya bisa beragam. Tetapi yang paling sering dipakai sebagai jawaban adalah hasil dan tantangannya. Tidak dapat dipungkiri bahwa hasil merupakan motivasi terbesar orang untuk mau melewati proses yang sulit (walaupun kadang ada yang pake jalan pintas).
Dalam mengungkapkan masalah motivasi, saya sama sekali tidak mau menyangkutkan dengan etika. Karena kadangkala motivasi hanya tertuju pada hasilnya saja. Bagaimanapun juga dalam real-world yang tidak mengikuti etika juga dapat mendompleng sistem, serta tidak mendapatkan sanksi apapun oleh masyarakat umum. Bagi mereka ini yang penting memiliki motivasi untuk berhasil, bagaimanapun jalannya. Ironis yach?!

Lucunya, semakin besar motivasi, maka range sacrifice-nya juga meluas. Jadi menurut saya, motivasi itu seperti obat. Bila kadarnya terlalu sedikit, maka tidak akan manjur. Tetapi bila terlalu banyak, orang pasti teler. Harus pas..pas.. dan pas!
Pertanyaannya… bagaimana bila motivasi anda terlalu besar dan… gagal?
Maka, gunakanlah motivasi sesuai anjuran. Bila otak sudah termotivasi tetapi tubuh tetap lunglai, hubungi siapapun yang bisa bantu.😉

Motivasi adalah kejam dan menganiaya diri sendiri.
Itu yang sebenarnya dirasakan oleh umumnya manusia. Tetapi dengan dalih keberhasilan, maka seseorang harus memiliki motivasi yang kuat dan siap menyiksa diri dengan tempaan jasmani dan rohani. Tetapi kok ada yang santai-santai dan malas-malasan tetapi kebagian enaknya melulu.??
Rujukan untuk pertanyaan tsb adalah pernyataan ras al-ghul guru batman: “orang malas dan orang jahat hidup dari toleransi masyarakat”. Mereka hidup dengan memanfaatkan dan menghisap lainnya seperti benalu. Tidak dieksekusi, dan tidak ada konsekuensi.
Mungkin diantara teman kita ada yang tukang manfaatin orang lain dan kita, omongan tidak berdasar dan sangat tidak njaga perasaan. Kalo lagi butuh utangan sikapnya lebih manis daripada sakarin dicampur sirup, tetapi kalo lagi diminta utangannya, lebih licin dari belut kecemplung oli, ya kan?! But, biasanya orang-orang ini berkarakter pede sehingga temen2x akan ngikut aja seperti kebo dicocok idungnya. Jelas-jelas sikap nyebelin, tetep aja diterima dan tidak ada konsekuensi. Mereka tau itu dan memanfaatkan itu semaksimal mungkin. So… who’s de fools..??? en who’s de stupid.??? They?? A..a..a.. of course nope! Ini hanya salah satu gambaran menyedihkan tentang orang yang memiliki motivasi tetapi tanpa etika, disekeliling orang yang biasanya kurang memiliki motivasi.

Kembali pada motivasi yang menyakitkan, kita dapat kembali ke jepang era miyamoto musashi. Sebelum bertempur dengan sasaki kojiro, dia selalu menempa dirinya dengan meletakkan posisi diri sebagai samurai kelas bawah, berusaha mati-matian memendam hasrat, dan berani melawan orang yang lebih kuat. Wah… wah…
Ada 3 hal yang saya cermati dari tindakannya. Pertama adalah konsep yang sederhana, menang atau mati, kedua memilih terjun ke sungai yang setengah membeku bila sedang berhasrat pada otsu, dan ketiga memilih bertarung dengan samurai-samurai hebat hanya karena ingin bisa menirukan jago samurai yang memotong tangkai bunga bakung dengan lurus.

Perlukah melindungi motivasi seperti melindungi kekuasaan?!
Mungkin pernyataan (kalau tidak salah machiavelli) ini dapat dipakai sebagai ilustrasi, “kekuasaan harus dijaga, bila tidak akan terebut. Dan kekuasaan mutlak tidak mungkin diwariskan sehingga harus direbut.” Makanya para mafioso sangat mengagung-agungkan doktrin ini. Coba rebut salah satu lahan bisnis mafia, siap-siap aja perang!! J.

”But, ini kan cuma motivasi, en motivasi ngga mbunuh orang.” Ooi! Think it twice..dude!! Motivasi hitler adalah menguasai lahan hidup untuk jerman raya, makanya dia mencaplok polandia dan negara sekitarnya, walaupun dengan jalan perang. Justru motivasi lebih berbahaya daripada perang itu sendiri.
Jadi bagaimana dengan pertanyaan di atas?
Bila saya jawab dengan asumsi, tentu saja kita harus melindungi motivasi. Motivasi ini bagaikan roh, hal suci yang diberikan Tuhan kepada manusia. Roh yang membedakan manusia hidup atau mati. Tetapi motivasi yang membedakan setiap manusia yang hidup.

Ada dua kontradiksi yang membuat orang memiliki motivasi yang sangat besar atau seketika kehilangan motivasi. Ilmuwan wahid einstein bilang God never play dice in this world. Sehingga segala sesuatu ada aturannya. Otomatis siapapun yang bekerja keras akan mendapat banyak hasil. Oh ya?! Benarkah..??! bagaimana dengan tindakan nasaruddin hoja saat beberapa anak kecil memintanya membagi adil buah-buahan apel?
Suatu hari sejumlah anak kecil meminta nasaruddin untuk membagi dengan adil beberapa apel kepada mereka. Ia bertanya, “pembagian adil ala manusia atau ala Tuhan?” mereka berseru serempak, “ala Tuhan!”. Maka nasaruddin hoja membagi-bagian apel tersebut. Ada yang mendapat 2 buah, ada yang 1, ada yang ½ apel, bahkan ada yang tidak kebagian. Anak-anak itu bingung dan bertanya mengapa pembagiannya seperti itu. Dengan enteng nasaruddin menjawab “lihat sekelilingmu. Ada yang dilahirkan menjadi anak orang kaya, ada anak orang miskin, bahkan ada anak yang dilahirkan yatim. Itu keadilan Tuhan.” Dan nasaruddin langsung ngeloyor pergi meninggalkan anak2 yang bengong.
Jadi pertanyaannya, bila ternyata garis kita adalah garis miskin? Masihkah akan ngotot berusaha? (tapi kan rix, mana kita tau?, iya juga kata saya)

Motivasi dalam berbagai fungsi performa diri,
Dalam membangun diri, motivasi dapat dianggap sebagai pasal1 ayat1 dalam undang2x-nya. Theodore roosevelt menyatakan (terjemahan) ”… tidak ada yang bisa menjatuhkanmu tanpa ada ijin darimu.”
Dalam strategi perang, menghancurkan motivasi bertempur adalah salah satu cara yang paling brilian untuk menang secara telak. Begitu pula bila ingin memanfaatkan motivasi dalam diri untuk mencapai performa yang baik. Salah satu kuncinya adalah memisahkan antara motivasi dengan idealisme dan egosentris.
Rumusannya kadangkala sederhana dan terdapat berbagai cara untuk memanfaatkan motivasi guna mengoptimalkan performa diri. Cintai apa yang kita kerjakan dan rejeki akan mengikuti. Entah darimana, tetapi ada ungkapan; musikus harus membuat musik, koki harus memasak, dan aktor harus berakting.

Nah bila ingin memanfaatkan motivasi, maka kita harus membangun mental tanpa harus menyiksa diri sendiri secara ekstrim seperti yang telah dijabarkan di atas. Sebagai ilustrasi, berapa banyak orang yang memilih tetap melanjutkan tidur serta menunda saat ada ide terlintas menjelang lelap??? Dan berapa yang memilih untuk bangkit menyalakan lampu dan mencari kertas dan pena untuk menuliskan idenya? Andakah salah satunya?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: