Responsi Pendidik atas Pola Pikir Anak

28 09 2007

Studi atas pengalaman SMU …
Bila ditanya tentang nem matematika saat lulus smu, maka saya pasti tidak akan lulus. Tetapi itu kalau saya masih bersekolah smu saat ini. 3,48 tiga koma empat delapan.!! Busyeet dah!! :,( untungnya saat itu, nem kagak masuk hitungan. Yang penting lulus en bisa ikut umptn, its ok! kebayang saat ini (periode akhir tahun ajaran 2006) banyak siswa teladan yang tidak lulus gara-gara nilai matematika memble, termasuk diantaranya adalah salah satu juara olimpiade fisika. Dalam hati adalah…

Bila mencermati sendiri sedikit sejarah saat masih sekolah, lucu. Saya masuk ke sekolah smu favorit dengan nem mefet, sehingga menjadi cadangan no.2 (untung keterima). Padahal saat masih es de, saya lulus sebagai rangking 3 sesekolahan. Saya masih ingat kepala sekolah saya yang datang menyampaikan hasil nem saya kerumah, karena saat pengumuman saya sakit. Eyang putri yang menerima beliau.
Tetapi begitu SMP, ada perubahan drastis dalam pola pikir saya atas apa yang terjadi di es de. Saya sangat mengingat satu kasus. Saat itu saya berdebat dengan salah satu teman tentang sebuah peristiwa sejarah yang saya bilang IYA. Saya tahu betul kalau pernyataan saya adalah sahih dan berdasar, saya membacanya dari ensiklopedia yang diberikan ayah. Tetapi teman saya tidak percaya karena dia merasa tidak tau. Akhirnya kami menanyakan pada guru yang bersangkutan dengan topik itu, dan jawabannya adalaaah… TIDAK!! So, kekalahan untuk saya!
Akhirnya saya lunglai dan merasa kalah, apalagi sampai pulang sekolah seharian dicemooh sebagai tukang tipu. Itulah salah satu kesedihan yang paling saya rasakan.
Ternyata setelah saya runut lagi, guru mengatakan bahwa dia tidak begitu tahu peristiwa itu. LHAAAA??!!! Berarti statemennya sebagai seorang pendidik tidak bertanggung-jawab dong?! Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur, sampe saya dikatakan SH alias suka horr atau dalam konteks bahasa jawa era 90-an berarti suka omong besar or bohong thok.
Hixs!! Sumpah deh sediiih banget.

Akhirnya dari peristiwa itu,
bad_egg.jpg
Pola pikir saya berubah total. Buat apa mempelajari hal – hal yang diketahui semua orang tetapi tidak menghasilkan apapun. Sayang space otak. Akhirnya saya menganggap sekolah dan pelajaran hanya sebagai “growing pain”, alias cuma penderitaan saat nunggu dewasa doang. Habis ada dirumah juga ngga ngerjain apapun, so daripada bengong saya berangkat ke sekolah. Sehingga di SMA, saya sukses menjadi ranking 1 dari 40 siswa sekelas … dari bawah.
Tapi suwer deh, statemen ini bukan untuk mempengaruhi temen2x sekalian. Saya anggap pola pikir saya yang melahirkan pemikiran demikian hanyalah bentuk kemalasan belajar saja. Walaupun ada peristiwa shock itu tetapi kalo saya tetep mau belajar, yaa tetep aja jadi bintang kelas.

Tetapi sejarah dan pengalaman di masa kecil memang bisa dan hampir selalu menimbulkan trauma psikologis. Bila hal ini tidak mampu ditangani oleh lingkungannya, maka biasanya akan menjadi asumsi / pembenaran berdasarkan pikiran diri sendiri. Dan pada akhirnya, penghargaan terhadap pemikiran orang lain berkurang atau (lebih parahnya) hilang.
Beberapa trauma memang memberikan dampak positif, yang mampu mengangkat seseorang menjadi different dalam arti positif. Di lain pihak, ada juga trauma yang membuat seseorang akhirnya tumbuh menjadi anti-sosial atau lebih parah lagi menjadi rebelis, vandalis, dan narsis.
Sebenarnya inilah salah satu hidden problem di masyarakat, menurut penilaian saya, adalah akibat adanya chaotic treatment yang berasal dari dalam. Yang sayang-nya, hal ini hanya akan dianalisa, dibahas, dan diperdebatkan, bila telah pecah menjadi konflik besar yang melibatkan bunuh-bunuhan dan saling menghancurkan.

Asumsinya, fundamental pola pikir terbentuk saat usia dini,
Lalu saya berpikir tentang bagaimana seharusnya pola pikir yang ideal itu?!
Hasilnya, adalah kolaborasi antara pengalaman traumatis dengan cure positif yang dijalankan oleh lingkungannya. Nah ada pertanyaan dari seorang temen, “gimana caranya kita bisa ndeteksi kalo ada trauma yang dialami oleh seorang anak?”
Ngg… jawabannya dalam topik bahasan tentang trauma psikologis saja deh. Sekarang kembali ke topik pola pikir.

Pokoknya… darimanapun pola pikir itu terbentuk, dia (si pola pikir ini) merupakan dasar dan fondasi kita untuk menjadi manusia yang gagal atau berhasil. Idiih serem yaa?! Sebelumnya saya juga tidak sampai pada kesimpulan demikian, bila tidak ada hasil survey. Kelinci percobaan survey ini adalah beberapa temen sendiri (termasuk saya pribadi), karena kami semua memiliki pola pikir yang berbeda2x. Nah sebagian besar berhasil, tetapi dan ada juga teman yang kurang berhasil. Setelah dirunut2x melalui sejumlah interview, barulah saya berani mengambil kesimpulan bahwa pola pikir merupakan salah satu elemen esensial yang mampu membawa mereka ke kesuksesan atau kesengsaraan.
Untungnya pola pikir juga mengalami evolusi dan dinamis. Dia dapat berubah sesuai dengan kedewasaan seseorang. So, inilah jawaban kenapa manusia cenderung menjadi baik. Dan sedikit sekali orang yang akhirnya jadi psiko-maniak. Dibutuhkan banyak benturan (trauma) di sisi psikologi serta sisi pola pikir yang terus menerus (biasanya saat usia dini), sehingga seseorang menjadi lost.

Distribusi pola pikir,
Pola pikir mampu memagari seseorang dari pandangan2 yang ekstrim (di satu sisi). Tetapi di sisi lain pola pikir dapat menjadi senjata yang sempurna untuk mempengaruhi manusia atau sekelompok manusia dengan bentuk doktrin.

Disadari atau tidak, bila telah menyangkut komunitas, maka pola pikir akan ber-metamorfosa menjadi suatu yang lain yaitu visi. Dan visi merupakan dasar penjabaran… doktrin. Sehingga tidak ada orang di dunia ini secerdas apapun yang lepas dari pengaruh doktrin termasuk kita. Nah lho…
Sebagai ilustrasi, anak-anak harus sekolah agar pintar. Seorang karyawan harus mengikuti aturan agar tidak dipecat. Titel merupakan salah satu tangga untuk mendukung karir. Dan masih banyak lagi contoh lain dari sektor kampanye, mengapa memilih produk A dibanding B. mengapa memilih partai A dibanding B dan mengapa memilih calon A dibanding B. Tetapi ada perbedaan mendasar yang terkait dengan pola pikir massa atas komunitas legal (instansi, biro, perusahaan, dsj-nya) dengan komunitas umum (pola-pola kampanye atau periklanan).

Pola pikir pada komunitas legal biasanya memiliki konsekuensi. Sedangkan pada komunitas umum merupakan hak. Maka dari itu, memanfaatkan sistem distribusi pola pikir dalam lingkungan umum lebih rumit dan lebih memiliki seni dibandingkan dengan pada sistem usaha atau komunitas legal.


Aksi

Information

One response

18 03 2008
fadliyusra

tulisan menarik
teach me…
saya punya program tentang pelatihan pola pikir anak…
just call me…
thx b4..
-salam-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: