Skill Lhoo… Skill… Niii! Teuing Ah!

28 09 2007

Apa yang dimaksud skill? Skill adalah kemampuan mencongak kata emak. Beliau bercerita, wah.. wah.. anak jaman sekarang ngitung 1+1 aja pake kalkulator. Jaman dulu ngitung 7×6 aja pake awang2x. tring!! Langsung ketemu.
Jawaban saya untuk menanggapi pernyataan hebat ini sederhana. “jaman dulu 1+1 hasilnya berapa? 2. pinteer tul kata guru. Nah sekarang ngga gitu mak, kami ditanya 1+1 = berapa? 2. oke itu adalah nilai c. nilai a = 2c x b. berapa anak-anak? gitu tanya guru. Nah lho!?!”
Setelah saat itu, emak ngga pernah mbanding2in saya ama masa lalu beliau lagi.😉

tag_skill.gif

Si desainer menjawab,
Salah satu teman saya memiliki konsep yang cukup kuat tentang skill. Dan dia memiliki kelebihan dalam menerangkan hal tersebut pada orang lain. Cirinya adalah agak botak, en jago masalah kalkulasi. Menarik.
Untuk memberikan fundamental yang baik, maka seseorang harus mempelajari banyak aspek secara mendalam. Dia suka belajar musik digital, desain, grafika, web, dan macam2x lainnya. Termasuk multimedia interaktif yang jauh lebih jago dari saya saat ini. Psst… padahal saya yang mengajarinya membangun aplikasi interaktif untuk pertama kalinya. Saat ditanya mengapa? Bukannya kamu menjadi ngga fokus? Bukankah hal itu tidak sesuai dengan konsep membangun keahlian yang hebat dan mendalam orang harus fokus? Tanya saya.
“Lho gini rie, bagaimana kamu bisa memecahkan masalah kalau keahlian kamu hanya pada satu bidang? Bila orang jago mekanik maka dia bisa buat mesin mobil. Tetapi pasti tidak akan bisa membuat mobil secara utuh. Karena dituntut juga paham masalah desain, ergonomi, safety, dan banyak aspek lainnya. Kalo hanya tau mesin dan yang dipelototin masalah mesin melulu, maka pertimbangannya utk mengadaptasikan mesin yang dibangun menjadi mobil yang bagus tidak akan tercapai.”
Begitu juga dengan desainer (menurutnya), harus bisa membuat konsep, harus mampu mengoperasionalkan software komputer, dan bisa bahasa inggris karena sebagian besar ilmu desain berasal dari bule.
Tanpa itu semua, mana ada orang yang mau pake desainer itu? Okelah jago konsep, tapi ngga tau gimana implementasinya, yaa… nonsense. Hal ini senada dengan perkataan konsultan saya.

super_man.jpg
Teori gelas pesta ala’rie (agak ngawur tetapi lumayan dimengerti kok)
Pernah tahu susunan gelas pesta? Tanya saya pada seorang cewek yang saya taksir waktu belajar desain diploma 1 di LPK jogja (sekarang dah dikawin orang ;p).
Bentuknya seperti piramida. Yang paling bawah banyak, trus atasnya menyedikit, dan yang paling atas biasanya hanya satu. Nah dalam piramida gelas itu ada lebih dari 6 lapis tumpukan. Kalo seluruh gelas itu diumpamakan sebagai desainer grafis, maka sampanye yang akan dituang diatas piramida gelas itu adalah kesempatan kerja. Nah bagian paling atas pasti luber, terus membasahi bagian kedua. Trus kalau masih luber akan membasahi bagian ketiga. Biasanya di bagian ini, 1 botol sampanye tidak akan mampu memenuhi seluruhnya. Sebagian berhenti mengisi 1/2 atau lebih pada lapis ketiga, sebagian merembes pada lapis keempat. Lapisan kelima dan keenam kosong melompong. Hal ini adalah menggambarkan kondisi sebuah angkatan kerja. Ada yang kebanjiran job sampai luber, terus ada yang kebagian setengahnya (semi pengangguran) dan ada yang tidak kecipratan sampanye eh job sama sekali (pengangguran).
Apa yang membuat angkatan kerja (diumpamakan sebagai gelas) untuk naik level di piramida tersebut? Jawabannya skill.
Anggap saja seluruh gelas paham disiplin ilmu desain, maka lapisan kedua (dari bawah) adalah yang juga memiliki kemampuan software. Lapisan ketiga (dari bawah) memiliki juga kemampuan bahasa inggris, lapisan diatasnya (keempat) memiliki kemampuan tambahan presentasi lalu lapisan diatas lagi memiliki tambahan kemampuan risk manajemen. Dan seterusnya.
Lalu…, bagaimana bisa yang lebih sakti ilmunya pasti mendapat job dibanding orang lain? Siapa tau dia pemalu. Ini ditanyakan oleh orang yang lain lagi (kebetulan juga cewek). Lho… jawabannya sederhana. Semakin sakti skill seseorang, semakin konfiden dia. Liat aja, ngga ada yang cukup konfiden merebut hati salah satu penyanyi bintang, sehingga gadis ayu nan imut itu dikawin opa2x, bukannya pemuda nan kece.

Sekarang bukannya jaman pepatah air beriak tanda tak dalam diajeng…kunoo! Tetapi jaman pepatah bagai air tsunami, riakannya menciutkan nyali. Arion ngawur yaa??

Konsultasi dengan psikolog,
Nah kalau seseorang bertanya pada saya, tentang apa itu skill, maka jawabannya sederhana. Itu adalah keahlian yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahaan yang ada. Tidak ada hubungannya dengan moralitas. Skill adalah pisau yang sangat tajam. Apakah digunakan oleh koki atau jack the ripper, itu masalah lain.
Seorang teman psikolog bilang pada saya, keahlian memecahkan masalah adalah kunci membangun sistem kerja. Tetapi… imbuh konsultan psikolog saya yang handal ini, tanpa adanya keberanian untuk mempertanggungjawabkan hasil, maka skill adalah nonsens. Hal ini juga dibuktikan olehnya dengan berani mengambil investasi besar… (jumlahnya ngg… tusjut gitu lah) karena dia memiliki skill tinggi, keberanian, dan pemahaman terhadap risk manajemen.
Saya mendoakan kamu berhasil dan sukses gilang-gemilang bro!

Kenapa beliau melakukannya? Jawabannya sederhana. Contoh!! Banyak orang yang menyatakan bahwa mereka tidak maju hanya karena kekurangan modal. Benarkah? “Coba saja tantang seorang yang skillfull dengan investasi rie. Kamu akan tau jawabannya”. Begitu katanya. Dan memang, jawabannya sesuai dengan prediksinya.😉 salut!
Ternyata skill tinggi tanpa mental atas resiko sama dengan masak makanan dari bahan2x berkualitas tinggi tetapi tidak dibubuhi garam. Hambar dan tanpa makna, walaupun mungkin bergizi.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: