Opini fall of advertising

11 09 2008

Catatan ini dibuat tahun 2004. Tetapi saat dibaca lagi kok rasa-rasanya masih relevan yah???? Kemapanan infrastruktur bisnis di Indonesia (atau boleh dikatakan sebagai fundamental bisnis indonesia) menurut asumsi pribadi belum mencukupi untuk membangun karakter periklanan yang informatif.
Walaupun sejujurnya iklan – iklan yang ada adalah sangat kreatif dan komunikatif.

So,
Mari mencoba menjadi obyektif.
Bila pernah membaca buku al ries, the fall of advertising & the rise of pr (santai ini buku sudah ditranslate ke bahasa Indonesia), itu bukan merupakan dasar dari tulisan ini. Sejujurnya karena secara pribadi tidak sepenuhnya menyetujui apa yang tertulis dalam buku tersebut walaupun semua memiliki kebenaran argumentatif. Jawabannya sederhana… ini Indonesia mister!

Sebenarnya secara pribadi belum didapat data dari rekan-rekan periklanan untuk membantu mereka melakukan counter-strike. Tapi dari asumsi, teknologi periklanan di Indonesia masih merupakan teknologi praktis. Siapa yang beriklan paling banyak memiliki kans paling besar untuk menjadi yang terkuat. Digambarkan dengan pameo “dengan iklan memang perusahaan belum tentu hidup, tetapi tanpa iklan pasti mati.”

Hasil analisa sambil main di lapangan juga menunjukkan hal yang sama. Masih banyak masyarakat kita yang mendapatkan informasi dari iklan untuk membuat keputusan. Iseng-iseng pernah tanya pada salah satu responden. “Anda percaya iklan?” beliau menjawab “YA. Lha habis saat ini kalo mbaca berita isinya negatif semua. Setidaknya kalau produk yang beriklan, kalo iklannya ngga benar kan nanti pasti ada larangan pemerintah.” Hehehe… Argumentasi sederhana memang. Tapi cukup kuat.

Ada lagi yang bilang, “memang kita dapat info produk dari mana lagi? Emang dari wartawan? Lha wong saat ini juga banyak wartawan… (memberikan nama salah satu merk obat sakit kepala yang terkenal).” Yaitu oknum wartawan yang sukanya bikin pusing orang lain. Note: Saya jadi kasian sama rekan2 wartawan yang benar-benar profesional termasuk bapak saya. :,(

So, kepercayaan masyarakat kita pada pr juga ngga setinggi di amerika sana. Jadi pada dasarnya apa yang tertulis dalam buku itu mungkin juga akan terjadi di masyarakat kita di masa depan (beberapa tahun lagi atau beberapa puluh tahun lagi hu-knows-lah).
Untuk itu, sebagai pribadi juga sempat berpikir apakah rekan-rekan periklanan bersiap-siap membangun next level periklanan yang pasti sangat membumi. Dan mulai merintis metode guna-nya untuk diri sendiri. Habis kalo gagal kan dia yang tanggung, walaupun kalo berhasil, hehe.. dia duluan juga.
Apa yang dimaksud dengan next level periklanan? Yaitu… apa yaa?!!! Mungkin intinya adalah kreativitas dalam berkomunikasi yang diperas sampai batas untuk menciptakan metode baru dalam beriklan.
Mengapa catatan di atas dibuat? Adalah karena ada input dan induksi wawasan dari rekan-rekan yang telah membaca buku tersebut. Tengkyu buat rekan-rekan yang telah memberikan referensi yang baik, walaupun saat mbaca buku tersebut membuat mata merah (karena saking menariknya jadi dilembur mpe pagi). Dan juga karena… kue iklan sebenarnya juga menggiurkan.
Tidak lupa,
Terima kasih pada rekan-rekan inovator yang punya inovasi canggih, kemampuan kalian memberikan inspirasi yang tiada habisnya. Juga pada teman-teman bidang manajemen performance yang telah mengenalkan metode malcolm-baldrige, dan lain-lain yang mampu menyempurnakan karakter menjadi lebih realibel.

Akhir catatan ini,
Saya tidak tahu bagaimana komunikasi yang pintar itu, tetapi komunikasi yang bodoh adalah yang melakukan pengingkaran.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: