Studi Hermeunetika Pada Bahasa Tanda Dalam Peradaban Nusantara

19 05 2013

catatan: merupakan paper yang dipergunakan untuk kajian semiotika desain. Ditulis tahun 2013

Pendahuluan
Studi ini mengkaji bahasa tanda visual dalam kaitannya dengan keilmuan kartografi. Premis umum yang dipergunakan untuk melaksanakan studi ini adalah satu pertanyaan sederhana yaitu “apakah ada budaya tanda yang asli tumbuh dan berkembang di nusantara”.
Dalam pengertiannya secara umum, kartografi merupakan sebuah pola naluriah untuk menciptakan komunikasi visual melalui serangkaian tindakan cipta dan karsa pada suatu bidang. Kemudian seiring dengan waktu kompleksitas pesan, budaya, dan teknologi mempengaruhi metode ini menjadi suatu keilmuan tersendiri.
Saat ini kartografi identik dengan pemetaan. Tetapi jika merujuk pada buku Cartographies of Time, 2010, karya Daniel Rosenberg dan Anthony Grafton (chapter 1 : 10), dijelaskan bahwa kartografi menjadi cara untuk ‘memberikan’ informasi kepada pihak lain. Hal ini meliputi hampir semua informasi terkait dengan struktur, diagram, peta, dan bentuk informasi lainnya yang saat ini tenar dengan istilah infografik.
Salah satu karya kartografi tertua yang dikenal adalah major rock painting dari Afrika Selatan. Karya pada dinding gua yang disebut dengan fight and flight ini diperkirakan berasal dari 8.000 – 10.000 tahun sebelum Masehi. Dengan demikian dapat dianggap bahwa kartografi merupakan salah satu induk desain komunikasi visual.
Dalam studi ini salah satu hal penting adalah mencermati peninggalan serupa di gua-gua dan atau situs purba yang ada di nusantara. Mengingat di beberapa situs purba yang telah menjadi cagar arkeologi internasional seperti Wajak, Trinil, dan Donorojo di bekas aliran sungai Bengawan Solo purba, tidak ditemukan artefak sejenis.

Budaya Tulis dan Sejarah
Mungkin perlu dikaji secara mendalam asal usul budaya di nusantara serta metode penyebaran pengetahuannya. Masih terdapat anggapan dan bahkan asumsi yang kuat tentang peradaban yang maju adalah peradaban yang memiliki sejarah. Sejarah yang dimaksud adalah kemampuan suatu peradaban dalam menciptakan budaya tulis.
Terdapat kecenderungan dari mekanisme keilmuan barat yang menganggap bahwa manusia tanpa budaya tulis bukan merupakan masyarakat yang beradap dan atau disebut primitif. Berdasarkan metode ini terdapat missing link yang cukup mengganggu dalam mengkaji budaya dan peradaban nusantara antara masa homo erectus dan homo sapiens.
Dari masa kegelapan dalam hal ini adalah belum adanya peninggalan prasasti pada peradaban di nusantara, tiba-tiba saja muncul prasasti yang berasal dari sebuah sistem kenegaraan kompleks yaitu prasasti Kutai dan prasasti Tarumanegara. Jika diamati secara logika waktu, maka menjadi aneh sebuah budaya tulis berkembang dan atau diadopsi oleh masyarakat yang dianggap primitif dalam hal ini adalah masyarakat nusantara.
Tetapi saat budaya tulis itu dipergunakan, maka penggunanya adalah setingkat raja dan atau kerajaan. Masyarakat primitif yang mengadopsi budaya baru yaitu huruf Pallawa dari India tanpa melewati tahap-tahap yang jelas, tiba-tiba saja mampu membangun hirarki dan sistem kerajaan yang rumit dalam sekejap.
Jika dicermati, terdapat sejumlah pola dalam mengukur perkembangan struktur suatu peradaban. Pola itu antara lain adalah :
1. Saat suatu teknik dan atau metode baru ditemukan, maka teknik dan atau metode tersebut meninggalkan jejak. Sehingga dalam kasus ini seandainya masyarakat nusantara adalah masyarakat primitif, kemudian mereka berinteraksi dengan ilmu pengetahuan yang jauh lebih maju yaitu tulisan, maka akan muncul learning spread artifacts. Yaitu sisa-sisa artifak yang menunjukkan proses pembelajaran. Misalnya desain awal dari huruf, kemudian penerapan huruf pada media (batu, tulang, dinding gua), dan lain-lain.
2. Jika suatu artifak merupakan komoditi impor dan teknologinya tidak berpindah tangan, maka suatu peradaban akan kehilangan pengetahuan dengan cepat dalam kurun waktu tertentu tetapi dapat menemukannya kembali atau mengimpor kembali suat saat. Sehingga ada kesenjangan peradaban dan budaya saat ada artifak dan saat tidak ada artifak tersebut. contoh adalah mesiu di Eropa. Pertama merupakan teknologi eksklusif Yunani yang disebut “Api Yunani”. Artifak tersebut membuat metode dan strategi peperangan Eropa sangat maju. Tetapi teknologi tersebut hilang dengan runtuhnya Yunani. Mesiu yang diimpor dari Cina membuka kembali metode peperangan dan peradaban yang baru di Eropa lebih dari 1000 tahun kemudian. Dalam kasus di nusantara, apakah ada suatu artifak yang menjadi sentral informasi semacam gambar dan atau bahasa tanda tertentu. Hal ini masih perlu dikaji.
3. Komunitas yang berkembang dalam suatu peradaban bergerak secara evolusi. Misalnya sebelum kerajaan muncul, maka muncul semacam sarikat untuk bertahan hidup bersama. Kemudian muncul sistem desa, suku, dan akhirnya kerajaan. Tidak mungkin suatu kerajaan muncul tiba-tiba tanpa adanya pemahaman masyarakat tentang sistem organisasi dan hirarki kekuasaan. Dalam kasus munculnya kerajaan-kerajaan awal di nusantara menjadi aneh bila sebuah kerajaan berdiri dengan cepat dari sebuah pengetahuan adopsi. Kecuali bila ada penaklukan besar-besaran dari sebuah kelompok terhadap kelompok lainnya. Tetapi metode penaklukan juga bukan merupakan sebuah pengetahuan yang mudah dipahami dan diterapkan. Ada konsep mobilitas, organisasi, pembagian kerja, perlengkapan, strategi dan lain-lain.
Jadi apakah sebenarnya sudah ada sistem kerajaan yang terstruktur di nusantara sebelum mereka mengenal budaya tulis yang dibawa dari India? Jika jawaban dari pertanyaan seperti ini adalah ‘tidak’, maka missing link peradaban terjadi sesuai paparan di atas. Tetapi bila jawabannya adalah ‘ya’, maka hal tersebut dapat membuka pertanyaan baru. Yaitu bagaimana sebuah peradaban yang kompleks semacam kerajaan dapat didirikan tanpa menggunakan sistem tulis? Adakah sistem lain yang dipergunakan oleh masyarakat nusantara sehingga mereka dapat berkembang dan membangun peradaban yang juga cukup maju.
Sebuah premis dapat diutarakan di sini berangkat dari asumsi bahwa jawaban pertanyaan di atas adalah ‘ya’. Tentunya ada metode keilmuan lainnya dalam berkomunikasi dan berbagi informasi antar individu dan kelompok dalam peradaban di nusantara pra-sejarah. Sehingga ada perbedaan paradigma antara istilah pra-sejarah dan istilah primitif untuk menilai masyarakat nusantara.

Budaya Tutur dan Semiotika
Jika budaya tulis selaras dengan sejarah, maka apakah budaya tutur dapat diselaraskan dengan semiotika atau bahasa tanda. Untuk mencermati hal ini kajian dilaksanakan dengan mengamati ada tidaknya simbol, piktogram, atau tanda visual yang dapat menjadi rujukan dalam situs-situs peradaban nusantara pra-sejarah.
Sejumlah situs arkeologi yang telah ditemukan menunjukkan adanya peradaban yang cukup maju pada era pra-sejarah. Salah satu yang menarik di Jawa Barat adalah situs Gunung Padang. Situs megalitik ini termasuk salah satu situs tua terbesar yang berdasarkan uji C-14 memiliki kisaran usia lebih dari 2500 tahun. Tidak ada pahatan secara khusus pada situs tersebut dan atau tanda visual berupa gambar seperti pada gua Neadertal atau situs di Kongo. Hal yang menunjukkan sisi artifisial adalah susunan batuan yang ada membentuk semacam punden berundak.
Kemudian mengkaji kembali secara sekilas penemuan Von Koenigswald, dan Eugene Dubois di situs purba lembah Bengawan Solo. Tidak ditemukan pula suatu artifak yang berhubungan dengan struktur tanda visual yang berfungsi sebagai sentral komunikasi seperti prasasti. Dengan tafsiran diakronis atas kondisi ini, maka saat masuk ke era sejarah, terdapat fenomena minimnya informasi dari suatu kerajaan berdasarkan prasasti.
Sejumlah kerajaan yang ada di nusantara bahkan muncul dari tulisan para pelancong seperti I Tsing, Ma Huan, dan Cheng Ho dari Cina. Tidak ada prasasti yang secara khusus membahas tentang kerajaan Kalingga, kerajaan Medang, Kerajaan Pagar Ruyung, dan sejumlah kerajaan lainnya. Dalam timeline diakronis terkait dengan studi kerajaan, beberapa kerajaan ditemukan dari sisanya, atau menjelang jaman imperialisme muncul dari catatan VOC atau penjelajah.
Fenomena terbesar atas minimnya budaya tulis juga membuat telaah atas kerajaan Syailendra menjadi sangat sulit. Teknologi pembangunan Borobudur dan candi-candi lainnya dan bahkan bekas kerajaan Syailendra sulit ditemukan. Beberapa anggapan menyatakan bahwa pralaya Merapi yang mengubur kerajaan Syailendra. Tetapi dengan luasnya wilayah Syailendra saat itu, seharusnya ada prasasti yang ditemukan di luar radius letusan Merapi. Sehingga informasi tentang letak istana kerajaan pendiri Borobudur dapat ditemukan dan atau dipastikan. Tetapi kenyataannya adalah tidak ada prasasti yang mendukung hal tersebut.
Dengan demikian, premis yang muncul terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban adalah budaya tutur. Premis ini memang memerlukan kajian dan penelitian lanjutan, tetapi setidaknya dapat menjawab pertanyaan mendasar hilangnya pengetahuan dan teknologi mendirikan candi sekelas Borobudur dan Prambanan. Sehingga yang muncul adalah hikayat dan cerita rakyat tentang Gunadharma dan Bandung Bondowoso. Diasumsikan karena sama sekali tidak ada bukti yang menunjukkan bagaimana kedua situs candi termegah di nusantara tersebut didirikan. Kemungkinan orang yang datang ke situs-situs tersebut kemudian tidak pernah berhubungan dengan masyarakat yang terlebih dahulu mendiami situs. Disinilah titik hilangnya teknologi dan pengetahuan berbasis budaya tutur.
Di sisi yang lain, tanda-tanda yang terkait dengan informasi pengetahuan juga tidak tersedia. Kemungkinan berbentuk manuskrip di bilah lontar, bambu, atau tulang telah lama musnah seiring waktu. Sedangkan tanda visual berupa relief atau prasasti tidak memuat secara khusus kronologis atau paparan tentang bangunan candi yang ada. Sebagai perbandingan, relief tentang Ramayana dan Sidharta Gautama dapat dijumpai dan ditafsirkan dengan detail dan mudah. Tetapi artefak yang memuat komunikasi hampir tidak tersedia. Sehingga penafsiran artifak menjadi rumit dan kompleks.
Dari kajian sederhana ini dapat dianggap bahwa metode tafsir tanda atau semiotika mungkin merupakan bagian dari budaya asli nusantara. Tetapi visual yang dipergunakan adalah visual 3 dimensi seperti artifak atau arsitektural. Hal ini terlihat dari sejumlah metode tafsir atas suatu informasi diintegrasikan dengan bentuk 3 dimensi seperti dolmen dan menhir di jaman batu, kala makara di era Dongson, dan bentuk keris, candi, serta artifak lainnya di era Hindu-Buddha sampai era imperialsme.

Paradigma Kehilangan Jati Diri
Doktor Arysio Santos dan Oppenheimer membangun tesis yang sangat tenar yang masih menjadi perdebatan hangat sampai saat ini yaitu bahwa Atlantis adalah Indonesia. Kedua kelompok pendukung dan penentang memiliki argumen masing-masing yang cukup kuat. Tetapi jika dilihat dari sisi keilmuan, munculnya pro-dan kontra atas premis tersebut adalah bentuk fenomena kehilangan arah dan jati diri.
Tetapi perlu dicermati bahwa ada keserupaan antara masyarakat di daerah Amerika Latin dan Nusantara. Keduanya memiliki peninggalan yang spektakuler, terdiri dari multi suku, dan juga memiliki budaya pengganti berupa asimilasi agama dari Timur Tengah.
Kemungkinan yang hilang dalam jati diri tersebut adalah dihancurkannya kepercayaan diri dan pengetahuan berupa kemampuan tafsir artifak oleh struktur kepercayaan, retorika, dan pemahaman baru. Kajian ini bukan untuk menyalahkan pihak dan atau budaya tertentu, tetapi lebih menyoroti bagaimana suatu budaya dan peradaban dapat musnah atau bermetamorfosa. Tetapi di sisi lain, keilmuan dan perspektif baru dalam mendalami kearifan budaya lokal juga memiliki potensi. Terutama untuk menggali kembali informasi yang hilang dan mengembalikan kembali jati diri bangsa dari sejarah masa lalunya.

Kesimpulan Umum
Bahasa tanda dalam peradaban di Nusantara dapat dianggap lebih tinggi dibandingkan dengan bahasa tulis. Terdapat asimilasi budaya antara budaya tutur dan budaya tulis yang mempengaruhi kesejarahan Nusantara.
Diperlukan keberanian dan obyektivitas tinggi untuk menggali serta meneliti masalah ini. Terutama untuk menguji premis bahwa peradaban dan pengetahuan di Nusantara sudah cukup tinggi sebelum diadopsinya budaya tulis dari India. Walaupun demikian diperlukan langkah-langkah yang jelas atas tonggak dan arah penelitian. Jangan sampai kepentingan tertentu di luar akademis dan sains berperan dominan sehingga penelitian yang mungkin akan dilaksanakan justru menjadi bias.
Jangan sampai outcome studi, kajian, dan atau penelitian terkait dengan hal ini hanya menghasilkan kebanggaan yang retoris. Tetapi di sisi lain justru meninggalkan tujuan penelitian untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan bagi masyarakat.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: